Menjemput Kearifan Leluhur: Filosofi Hukum Adat Dalam Kepemimpinan Bugis

WajahNegeri com, BONE — Tengah derasnya arus globalisasi dan transformasi teknologi, tatanan kehidupan seringkali mengalami pergeseran nilai. Degradasi moral dan kesimpangsiuran etika menjadi tantangan besar dalam merawat warisan luhur. Padahal, nenek moyang kita telah mewariskan norma-norma yang bersumber dari rasa keadilan sejati—sebuah kompas tingkah laku yang terangkum rapi dalam adat istiadat Suku Bugis. Sebagai etnik yang memiliki akar sejarah panjang dari Sulawesi Selatan, Suku Bugis tidak hanya dikenal melalui jejak literasi terbesar dunia, I La Galigo, tetapi juga melalui ketegasan sistem pemerintahannya yang sarat akan makna filosofis.


Dalam kearifan Pappaseng Toriolo (wasiat orang terdahulu), sebuah negeri dikatakan ideal jika memenuhi enam pilar utama: adanya pemimpin yang bertanggung jawab, ketersediaan sumber kehidupan (irigasi), hubungan diplomatik yang baik, pusat perniagaan yang hidup, kehadiran kaum cendekia yang bijaksana, serta adanya ahli yang menjaga kesejahteraan rakyat. Prinsip ini menegaskan bahwa kemakmuran sebuah bangsa hanya dapat dicapai apabila sistem pemerintahan dijalankan oleh individu yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki integritas moral yang utuh.

Baca Juga:  Resmi Nahkodai BPK Bone, Abdul Samad Serukan Sinergitas Peduli Kemanusiaan


​Lebih jauh lagi, kepemimpinan dalam budaya Bugis bukanlah sekadar jabatan, melainkan amanah yang menuntut tujuh kriteria utama perbuatan pikiran: memahami adat, peka terhadap isyarat kebenaran, teguh pendirian, takut kepada Tuhan, mengerti tatanan hidup, paham akan hukum, dan menjunjung tinggi keadilan. Tanpa prinsip-prinsip ini, seorang pemimpin akan mudah goyah, terjerumus dalam praktik suap, hingga mengkhianati janji dan kesepakatan. Oleh karena itu, mari kita kembali menanamkan nilai-nilai luhur ini dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus fondasi untuk membangun masa depan yang lebih beradab.


​”Kepemimpinan adalah cermin dari kedalaman jiwa. Sebuah bangsa tidak akan runtuh karena kekurangan orang pintar, namun ia bisa hancur karena pemimpinnya kehilangan rasa takut kepada Tuhan dan tidak lagi berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan yang adil,” ucap Bung Amir di sela sela bercakap.

Baca Juga:  Satu Orang Petugas PKD Meninggal Dunia Bawaslu Bone Berduka

(Zul)*

Pos terkait