WajahNegeri.com, BONE– Wanita dalam khazanah pemikiran pendidikan dikenal sebagai madrasatul ula, sekolah pertama bagi manusia. Konsep ini sejalan dengan teori sosialisasi primer Peter L. Berger dan Thomas Luckmann yang menegaskan bahwa keluarga khususnya figur ibu merupakan ruang awal pembentukan kesadaran nilai, dan makna sosial anak. Ibu tidak hanya mentransfer pengetahuan dasar tetapi juga membangun struktur afektif dan moral yang menjadi kerangka berpikir anak sepanjang hidupnya.
Dengan demikian, peran perempuan sebagai pendidik pertama bukanlah sekadar peran domestik, melainkan fondasi epistemologis dan etis bagi keberlanjutan peradaban.
Dalam perspektif psikologi perkembangan terutama teori attachment John Bowlby, relasi emosional yang aman antara ibu dan anak berkontribusi besar terhadap kemampuan individu membangun empati, kontrol diri dan relasi sosial yang sehat.
Oleh karena itu keberhasilan seorang anak baik secara akademik, sosial maupun professional tidak dapat dilepaskan dari doa ibu yang terus mengalir sebagai bentuk keterlibatan emosional dan spiritual. Doa ini bukan sekadar simbol religius tetapi manifestasi dari kerja afektif yang intens, konsisten, dan sering kali tidak terlihat dalam logika produktivitas modern.
Integritas dan tata krama yang melekat pada diri seseorang juga merupakan hasil dari proses panjang penanaman nilai sejak usia dini. Pierre Bourdieu menyebut proses ini sebagai pembentukan habitus, yakni struktur nilai yang tertanam melalui praktik keseharian bukan melalui indoktrinasi instan. Integritas dan tata krama tidak bisa dicangkokkan secara cepat, apalagi diajarkan secara formalistic keduanya ditanamkan melalui keteladanan, kesabaran dan relasi yang berulang.
Dalam konteks ini, ibu memikul kerja simbolik dan emosional yang sangat berat, namun kerap dianggap alamiah dan tidak bernilai ekonomi.
Ironisnya realitas sosial hari ini justru memperlihatkan degradasi moral dan penghormatan terhadap ibu.Tidak sedikit kasus anak yang mengabaikan ibunya, menelantarkan secara ekonomi dan emosional bahkan dalam kasus ekstrem, melakukan kekerasan hingga pembunuhan terhadap ibu kandungnya sendiri.
Fenomena ini tidak dapat dibaca semata sebagai kegagalan individu melainkan sebagai refleksi krisis nilai dan kegagalan sistem pendidikan sosial yang memisahkan kecerdasan dari moralitas. Masyarakat yang memuja prestasi dan materialisme, namun mengabaikan etika relasional secara tidak langsung melahirkan generasi yang tercerabut dari nilai empati dan penghormatan terhadap ibu.
Dari perspektif feminis struktural, pengabaian terhadap ibu juga merupakan produk dari sistem sosial yang tidak adil. Feminisme sosialis dan feminisme marxis mengkritik bagaimana kerja reproduktif dan pengasuhan yang mayoritas dilakukan oleh perempuan tidak diakui sebagai kerja produktif oleh Negara.
Beban ganda perempuan, minimnya perlindungan sosial bagi ibu, serta absennya kebijakan ramah keluarga menunjukkan bahwa sistem justru mengeksploitasi pengorbanan ibu lalu menyalahkan mereka ketika terjadi kegagalan sosial. Dalam konteks ini, memuliakan ibu tidak cukup dilakukan secara moral, tetapi harus diwujudkan dalam kebijakan yang adil dan berpihak.
Oleh karena itu momentum Hari Ibu seharusnya menjadi ruang refleksi kritis dan introspeksi kolektif. Mengingat ibu bukan hanya tentang nostalgia dan simbolisme, melainkan tentang keberanian mengoreksi cara pandang system dan relasi sosial yang selama ini menormalisasi pengorbanan tanpa penghargaan.
SELAMAT HARI IBU…Sebuah ajakan untuk menumbuhkan kesadaran, empati dan tanggung jawab moral dalam menghargai ibu sebagai sumber nilai, kekuatan, dan keberlanjutan peradaban, oleh karena itu memuliakan Ibu berarti memuliakan manusia itu sendiri. ( Oleh : Darwis Tahang, SH.,MH.,MM. – Akademisi dan Penggiat Demokrasi).
Refleksi Kritis Hari Ibu : Memuliakan IBU dan Merawat Peradaban





