WajahNegeri.Com, Bone – Potensi kebakaran wilayah padat penduduk menjadi permasalahan di kota besar maupun daerah termasuk Kabupaten Bone. Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Damkar PB) menyadari dampak besar yang dapat ditimbulkan apabila kebakaran terjadi dan penanganannya tidak direncanakan dengan baik sejak dini.
Namun, penanganan kebakaran tidak hanya dilakukan kaum pria. Ada juga srikandi pemadam kebakaran yang selalu siaga di Kantor Damkar PB maupun Posko Center jl Ahmad Yani.
Tugas utama mereka di bagian logistik dan pelaporan. Meski begitu, tak jarang para srikandi ini juga ikut menjadi tim dalam memberikan layanan pemadaman kebakaran yang diutarakan Kabid. Pencegahan dan Penyelamatan Ir.Akbar, S.ST, Jumat (22/05/2026).
Waktu menunjukkan pukul 03.30 WITA. Namun, pengeras suara di Kantor Damkar PB terdengar telah terjadi kebakaran di kawasan Manurungnge
Andi Miska tim srikandi bersama rekannya sontak beranjak dari tidur dengan komunikasi kebeberapa lini via Smartphone dan sarana komunikasi lainnya. Mereka langsung bersiap hadir dilokasi bagi yang kebetulan piket dengan baju perlengkapan pelindung diri.
Tak berselang lama kemudian kendaraan sudah mengeluarkan sirine. Srikandi Damkar setidaknya sebagai penyemangat dan evakuasi penanganan warga wanita yang kena bencana kebakaran itu pun bergegas ke lokasi kebakaran.
Saat berada di lapangan, mereka bolak-balik mengangkut air dari hydrant. Andi Miska satu-satunya wanita yang sering ikut dalam pemadaman api membawa kamera membidik ke lokasi kebakaran di sebuah rumah jl Bawakaraeng beberapa waktu yang lalu.
Kebetulan tidak ada korban dalam kebakaran tersebut. Namun menurutnya Kehadirannya akan membantu evakuasi korban dari kalangan perempuan jika membutuhkan pertolongan.
“Kalau di lapangan biasanya kita bantu logistik, dokumentasi dan di sela pendinginan kita juga bantu menyiramkan air. Tapi kalau untuk evakuasi yang kita tangani biasanya ibu-ibu dan anak,” kata Andi Miska
Dia menjelaskan, srikandi pemadam berjumlah 35 orang dengan wilayah kerja yang tersebar di lima titik. Sementara di markas komando ada tujuh orang yang berdinas sehari-harinya.
Miska dan kawan-kawan sebagian besar masih berstatus pegawai P3K di Damkar PB. Jika dibandingkan dengan risiko pekerjaannya, penghasilan mereka sebagai petugas pemadam kebakaran belum mencapai layak.
Meski begitu, Miska melihat pekerjaan yang dilakoninya sebagai pengabdian. Menurutnya, semua pekerjaan memiliki risiko.
“Memang risiko pekerjaan kita lebih tinggi. Tapi, karena risiko cedera tidak hanya bisa dialami di tempat berisiko. Kita lagi jalan bisa kecelakaan kan,” katanya.
Miska juga mengaku belum pernah mengalami cedera parah selama menjalani tugas. “Kalau luka, luka sobek, terkena panas mah sudah biasa petugas Damkar Kalau luka berat jangan sampai saja,” ujarnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Penyelamatan Damkar PB Bone, Ir.Akbar, S.ST mengungkapkan para srikandi pemadam itu ada sejak 2017 lalu.
Awalnya, keberadaan perempuan di dinas kebakaran sebagai upaya kesetaraan gender di dalam dunia kerja.
Namun belakangan, kehadiran tim pemadam kebakaran perempuan ini lebih tepat karena selama ini korban kebakaran paling banyak adalah perempuan dan anak-anak.
“Mereka siap kapan pun dibutuhkan di lokasi kebakaran. Bahkan, srikandi pemadam kita juga ada yang dilatih mengendarai truk tangki,” ujar Akbar
Selain pemadaman api, para srikandi ini juga turut bekerja dalam menanggulangi bencana hingga penyelamatan manusia dan hewan. Mereka telah digembleng dengan keras melalui berbagai pelatihan.
“Untuk srikandi pemadam ini kerjanya 8 jam sehari, lima hari dalam seminggu. Mereka memang berbeda untuk jam kerja, kalau laki-laki kerjanya 24 jam dan liburnya dua hari,” tutup Akbar (Dhany)
Mengenal Srikandi Damkar Bone, Perempuan Tangguh Peran Dukung Penjinak Si Jago Merah





