WajahNegeri.Com, Makassar – Dorong Transformasi ‘Blue Food’, Laut Jadi Kunci Swasembada Pangan
Basri Kinas Mappaseng yang juga Alumni Perikanan Unhas Angkatan 85 back to camp berbagi kesuksesan sebagai Dosen Tamu memaparkan strategi Blue Food di Universitas Hasanuddin untuk mencapai swasembada pangan Indonesia pada tahun 2029.
PT Agrinas Jaladri Nusantara akan memodernisasi armada dan infrastruktur rantai dingin guna mengatasi masalah distribusi hasil laut nasional.
Sinergi lintas sektor ditargetkan mendukung program makan bergizi gratis bagi 82,9 juta penerima manfaat di seluruh wilayah Indonesia.
Basri Kinas Dorong Transformasi ‘Blue Food’, Laut Jadi Kunci Swasembada Pangan
Dalam kuliah tamu di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin, Sabtu(2/5).
Dalam kuliah tamu di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin, Basri Kinas Mappaseng menegaskan bahwa kedaulatan pangan nasional kini bertumpu pada transformasi konsep Blue Food.
Sebagai Komisaris Independen PT Agrinas Jaladri Nusantara (AJN), Basri memaparkan langkah strategis untuk mengonversi potensi maritim Indonesia yang diperkirakan mencapai USD 82 miliar menjadi kekuatan nyata menuju swasembada pangan pada 2029.
Menurutnya, Blue Food bukan sekadar komoditas hasil laut, melainkan seluruh sumber pangan dari ekosistem akuatik—mulai dari ikan, udang, kerang, hingga rumput laut—yang memiliki nilai strategis dalam menjawab tantangan pangan global.
“Laut adalah warisan kita, namun swasembada adalah tanggung jawab strategis yang harus kita rebut kembali,” tegas Basri.
Ia menilai, keunggulan utama protein laut terletak pada efisiensi karbon yang lebih rendah dibandingkan daging merah, serta kandungan nutrisi tinggi seperti omega-3 dan vitamin D.
Faktor ini menjadikan sektor perikanan sebagai pilar penting dalam ekonomi hijau sekaligus upaya menekan stunting.
Basri menjelaskan, implementasi Blue Food dibangun di atas empat pilar utama. Pertama, aspek nutrisi untuk memastikan distribusi protein berkualitas bagi masyarakat.
Kedua, keberlanjutan dengan menekan jejak karbon produksi pangan. Ketiga, kedaulatan melalui optimalisasi potensi 17.504 pulau di Indonesia. Keempat, aspek ekonomi yang menciptakan efek berganda dari hulu ke hilir.
Namun, di balik potensi besar tersebut, Indonesia masih menghadapi persoalan klasik di sektor perikanan.
Dengan luas laut mencapai 5,8 juta km², distribusi hasil laut masih belum merata. Sebanyak 95 persen armada tangkap didominasi kapal kecil di bawah 10 GT, yang berdampak pada tingginya kehilangan pasca-panen hingga 20–30 persen.
Basri menekankan, persoalan utama bukan pada produksi, melainkan lemahnya infrastruktur rantai din
Menurutnya, penguatan teknologi penyimpanan dan distribusi dingin menjadi solusi cepat untuk meningkatkan suplai tanpa eksploitasi berlebihan.
Transformasi PT Virama Karya menjadi AJN pada 2025 disebut sebagai langkah penting dalam pembenahan tata kelola sektor maritim. AJN kini berada dalam ekosistem Danantara Indonesia dan diposisikan sebagai BUMN klaster perikanan tunggal.
Model ini diharapkan mampu menghapus ego sektoral yang selama ini menghambat integrasi industri perikanan nasional.
AJN mengemban empat mandat utama: modernisasi armada di 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP), revitalisasi 300.000 hektare tambak idle, pembangunan infrastruktur rantai dingin nasional, serta menjadi offtaker bagi nelayan kecil.
Melalui peran sebagai pembeli siaga, AJN diharapkan memberi kepastian harga bagi nelayan sekaligus memperkuat ekosistem kampung nelayan agar lebih berdaya saing.
Strategi ini juga terhubung dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2025 yang menargetkan 82,9 juta penerima manfaat.
Dengan kebutuhan protein sekitar 57 gram per porsi, AJN berperan sebagai agregator dan distributor untuk memastikan pasokan ikan menjangkau lebih dari 20.000 titik layanan.
Peran ini dinilai krusial, terutama untuk wilayah terpencil yang selama ini terkendala akses listrik dan fasilitas pendingin.
Peluang Besar bagi Alumni dan Mahasiswa Basri juga menyoroti kebutuhan sumber daya manusia dalam mendukung transformasi ini.
Kolaborasi antara AJN dan Universitas Hasanuddin tengah disiapkan, mencakup program magang, riset pengelolaan perikanan, hingga penguatan jejaring alumni berbasis kompetensi.
Kebutuhan tenaga kerja kini bergeser ke arah teknologi tinggi, seperti aquaculture engineer, peneliti akuakultur berbasis IoT, hingga manajer rantai pasok dingin.
Dengan target konsumsi ikan nasional di atas 62 kg per kapita dan produksi mencapai 30 juta ton, visi “Indonesia Biru 2029” dinilai realistis jika didukung sinergi antara pemerintah, BUMN, dan akademisi
Kolaborasi antara AJN dan Universitas Hasanuddin tengah disiapkan, mencakup program magang, riset pengelolaan perikanan, hingga penguatan jejaring alumni berbasis kompetensi.
Kebutuhan tenaga kerja kini bergeser ke arah teknologi tinggi, seperti aquaculture engineer, peneliti akuakultur berbasis IoT, hingga manajer rantai pasok dingin.
Dengan target konsumsi ikan nasional di atas 62 kg per kapita dan produksi mencapai 30 juta ton, visi “Indonesia Biru 2029” dinilai realistis jika didukung sinergi antara pemerintah, BUMN, dan akademisi
“Swasembada ikan adalah kehormatan kita sebagai bangsa maritim. Saya mengundang mahasiswa dan alumni untuk bergabung dan membuktikan bahwa masa depan Indonesia ada di lautnya,” tutup Basri. (A.Syafri)
Komisaris PT.Agrinas Jaladri Nusantara Basri Kinas Mappaseng Beri Kuliah Tamu di FIKP Unhas: Alumni Perikanan 85 ini Berbagi Tips Kelola Sumber Daya Perikanan





